Keputusan The Fed menunda pemangkasan bunga telah menjadi pemicu utama aksi jual aset di pasar negara berkembang.
Sentimen selanjutnya yakni eskalasi geopolitik Timur Tengah, dimana ketegangan di wilayah tersebut, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, telah mendorong volatilitas tinggi pada harga energi dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global yang persisten.
Sementara itu dari domestik, David menyebutkan satu sentimen utamanya yakni tekanan nilai tukar rupiah, di mana pelemahan rupiah terhadap dolar AS akibat sentimen eksternal memicu aksi jual lanjutan oleh investor asing dengan total net sell pasar reguler 2026 mencapai Rp45,382 triliun sebagai upaya untuk membatasi kerugian kurs.
Berbicara tentang potensi pergerakan market dalam sepekan ke depan (4-8 Mei 2026), David menjelaskan outlook pasar ke depan diperkirakan bergerak dalam kondisi risk-off moderat yang didominasi oleh tekanan eksternal, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Selat Hormuz yang menjaga harga minyak dunia tetap tinggi.
"Kondisi selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas," kata David.