Di tengah situasi pasar yang cenderung bergerak dalam kondisi risk-off moderat ini, imbuhnya, sektor konsumsi dan transportasi menghadapi risiko penurunan yang signifikan akibat lonjakan harga energi.
Sementara itu, komoditas nikel dan CPO diprediksi tetap memiliki ketahanan yang kuat berkat adanya keterbatasan pasokan global dan dukungan kebijakan domestik.
“Situasi ini secara teknikal menempatkan IHSG dalam fase downtrend jangka menengah yang berisiko menguji area support di level 6.918 hingga 6.696, sehingga investor disarankan untuk benar-benar bersikap lebih defensif dengan fokus pada emiten berbasis komoditas seperti nikel dan CPO yang memiliki ketahanan fundamental lebih kuat dibandingkan sektor konsumsi atau transportasi yang rentan terhadap lonjakan biaya operasional,” ujarnya.
Dengan analisa tersebut, David merekomendasikan empat saham berikut:
- Buy AADI (Current Price: Rp11.600, Entry: Rp11.600, Target Price: Rp12.200 (5,17 persen) Stop Loss: Rp11.300 (-2.59 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.0). PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berpotensi breakout all time high dan naik dengan high volume.
- Buy on Pullback LSIP (Current Price: Rp1.725, Entry: Rp1.680-Rp1.700, Target Price: Rp1.800 (7,14 persen), Stop Loss: Rp1.620 (-3.57 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.0). Tren harga CPO yang sedang menanjak memberikan angin segar bagi PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) konsisten di atas MA5 dan karga komoditas sawit cenderung uptrend.
- Buy SSIA (Current Price: Rp1.785, Entry: Rp1.785, Target Price: Rp1.960 (9,80 persen), Stop Loss: Rp1.700 (-4,76 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.1.). PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berhasil kembali bergerak di atas area rata-rata (MA5 & MA20). Didukung oleh indikator MACD yang terus mengarah ke atas, SSIA memiliki ruang penguatan yang cukup lebar dengan rasio risiko yang sangat terukur.