Hal itu tercermin dari pelemahan indeks Nasdaq sebesar 4,2 persen dan KOSPI yang sempat anjlok 6,8 persen hingga memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt).
Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Dari domestik, sentimen negatif turut datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut hingga menyentuh level terendah baru secara nominal, yakni di Rp18.165 per USD.
Kabar makro terbaru, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar USD144,9 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir April 2026 sebesar USD146,2 miliar.