IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun signifikan pada perdagangan Selasa (19/5/2026), memperpanjang tren pelemahan menjadi enam hari berturut-turut.
Koreksi tajam ini terjadi di tengah tekanan outflow asing, anjloknya rupiah ke rekor terendah, hingga rumor pembentukan badan pengendali ekspor yang memicu keresahan pasar.
IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68, sekaligus berada di kisaran posisi terendah sejak April 2025. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,78 triliun dengan volume perdagangan 43,30 miliar saham.
Sementara, investor asing membukukan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp1,50 triliun dalam sepekan terakhir.
Tekanan jual terlihat merata di hampir seluruh sektor pasar. Sebanyak 647 saham turun, hanya 117 saham menguat, dan 195 saham stagnan.
Sektor basic material memimpin pelemahan dengan koreksi 7,3 persen, diikuti sektor energi (-6,94 persen), sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan sebesar 0,55 persen.
Pelemahan ini melanjutkan koreksi tajam pada perdagangan Senin, ketika IHSG ditutup turun 1,85 persen setelah sempat anjlok hingga 4,38 persen secara intraday.
Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa di kisaran Rp17.728 per USD.
Pelaku pasar khawatir terhadap rumor pemerintah yang disebut tengah menyiapkan skema pengaturan ekspor komoditas strategis melalui satu badan khusus bentukan negara.
Komoditas yang dirumorkan masuk dalam skema tersebut meliputi batu bara, CPO, hingga mineral logam.
Pasar menilai kebijakan itu berpotensi membuka ruang pengendalian harga jual dan menekan marjin eksportir, sehingga memicu aksi jual besar-besaran pada saham berbasis komoditas.
Di saat bersamaan, mengutip MNC Sekuritas, pasar juga dibayangi revisi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang akan efektif mulai 1 Juni 2026.
Dari sisi teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai tren bearish IHSG masih dominan setelah indeks menembus area support 6.870-7.020. Indikator MACD juga masih bergerak negatif dengan support terdekat di area 6.322.
BRI Danareksa memperkirakan apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi bergerak turun menuju area 6.100 hingga 5.900. Sementara MNC Sekuritas mengingatkan adanya potensi koreksi lanjutan ke rentang 6.092-6.148 untuk menutup gap berikutnya.
Mengutip catatan Phintraco Sekuritas, pasar kini menanti dua agenda penting pada Rabu (20/5/2026), yakni pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027, serta pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Phintraco menilai pidato tersebut menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya kepala negara menyampaikan langsung dokumen KEM-PPKF di hadapan DPR, yang biasanya dipaparkan Menteri Keuangan.
Selain itu, investor juga mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen guna meredam tekanan terhadap rupiah.
Sentimen lain yang turut membebani pasar adalah keputusan FTSE Russell yang kembali menunda full index re-ranking serta penambahan IPO baru hingga minimal September 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.