“Apa pun yang terjadi pada minyak, ke sanalah arah imbal hasil,” kata analis Laffer Tengler Investments, Byron Anderson.
Situasi ini membuat sebagian investor mengurangi eksposur ke obligasi jangka panjang. Anderson bahkan menyebut perusahaannya hampir sepenuhnya menghindari obligasi tenor panjang.
Dia menilai inflasi yang persisten akan terus mendorong imbal hasil jangka panjang naik, bahkan berpotensi membawa obligasi 10 tahun ke level 5 persen, angka yang terakhir tercatat pada Oktober 2023.
Sejak awal Maret, imbal hasil 10 tahun telah naik sekitar 45 basis poin dan sempat mencapai level tertinggi dalam 11 bulan di 4,484 persen.
Investor menilai inflasi yang sulit turun akan menjadi tantangan besar bagi Warsh, yang kemungkinan menghadapi perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan.