Untuk BBCA, investor terutama mempertanyakan potensi pertumbuhan laba per saham atau EPS dalam jangka panjang. Investor juga melihat peluang perbaikan NIM pada semester II-2026.
CGSI menilai, apabila kondisi makroekonomi menjadi lebih kondusif, BBCA berpotensi mendapat manfaat dari sisi arus dana atau fund flow.
Sementara itu, perhatian investor terhadap BMRI lebih banyak tertuju pada prospek laba semester II-2026. Kekhawatiran mengenai tekanan NIM lanjutan serta potensi kenaikan credit cost menjadi isu utama.
Untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), respons investor cenderung beragam. Sebagian melihat rendahnya kepemilikan asing dibandingkan bank sejenis sebagai faktor positif.
Namun, sebagian investor lainnya masih mencermati PT Permodalan Nasional Madani (PNM), anak usaha BBRI, serta potensi program kredit mikro lainnya. Investor juga mempertanyakan kapan pertumbuhan kredit mikro dapat kembali normal setelah proses pembersihan atau clean-up portofolio.