Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari isu aksesibilitas dan transparansi pasar modal Indonesia yang menjadi perhatian MSCI, rebalancing indeks global FTSE, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah terhadap dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.
Faktor Musiman Juni dan MSCI
Secara historis, Juni sebenarnya termasuk bulan yang relatif positif bagi pasar saham Indonesia.
Dalam 20 tahun terakhir, IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 20 periode Juni sejak 2006 atau memiliki probabilitas naik sekitar 62 persen. Rata-rata kinerja indeks pada bulan tersebut juga masih positif sebesar 0,29 persen.
Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa performa Juni tidak selalu konsisten. IHSG pernah melonjak 4,58 persen pada Juni 2016 dan 3,19 persen pada Juni 2020, tetapi juga sempat turun 3,46 persen pada Juni 2025 dan melemah 3,32 persen pada Juni 2022.
Tahun ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda penting. Pada 18 Juni, MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review yang mengevaluasi tingkat aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor asing. Sehari setelahnya, perubahan indeks FTSE mulai berlaku efektif.