Harga energi yang tinggi meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga.
Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Plc, Suki Cooper, mengatakan koreksi harga emas saat ini tergolong lebih dalam dari biasanya, namun tekanan seperti ini lazim terjadi setelah periode gejolak ekstrem.
“Koreksi harga emas saat ini terlihat lebih dalam dari biasanya. Namun, bukan hal yang aneh jika emas mengalami tekanan selama empat hingga enam pekan setelah periode gejolak ekstrem, karena emas sering menjadi aset likuid yang dijual investor saat membutuhkan dana,” ujar Cooper, seperti dikutip Money Control, Selasa (24/3/2026).
Kepala Strategi Komoditas Saxo, Ole Hansen, menilai, dikutip Business Insider, Senin (23/3), meningkatnya ekspektasi inflasi telah mendorong imbal hasil obligasi dan memperkuat dolar AS, sehingga menekan logam mulia.
Strategis Komoditas ING, Ewa Manthey, menambahkan, faktor geopolitik saja tidak cukup untuk menopang harga emas dalam jangka panjang.