Di sisi lain, harga minyak justru kembali menguat di tengah gangguan pasokan global.
Harga minyak Brent naik 4,2 persen menjadi USD104,21 per barel pada Selasa pagi, berbalik menguat setelah sebelumnya anjlok sekitar 10 persen pada Senin. Sementara itu, minyak mentah AS naik 4,3 persen menjadi USD91,93 per barel.
Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia masih menghadapi risiko gangguan, sehingga tekanan inflasi diperkirakan bertahan lebih lama.
Kepala Pasar Asia Pasifik Capital Economics, Thomas Mathews, mengatakan kepada Reuters, Selasa (24/3), kerusakan infrastruktur energi akibat perang akan membuat harga energi tetap tinggi meskipun konflik mereda.
Sementara, Kepala Strategi Pasar AS Morningstar, Dave Sekera, menambahkan investor perlu bersiap menghadapi volatilitas yang berkepanjangan selama konflik berlangsung.