Di saat yang sama, pemerintah juga memberi sinyal pelonggaran kuota produksi secara terukur.
Volume produksi berpotensi ditingkatkan saat harga komoditas menguat guna mengoptimalkan penerimaan negara, sementara pasokan dapat dikendalikan ketika harga melemah untuk menjaga daya tawar pasar.
Menurut Maybank, langkah tersebut menjadi kabar baik bagi produsen nikel. Meski kuota produksi berpotensi bertambah pada semester II-2026, mereka tidak memperkirakan harga bijih nikel akan mengalami penurunan signifikan.
Saat ini, Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel yang telah direvisi berada di kisaran USD60 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun lalu yang berada pada rentang USD45-50 per ton. Kondisi tersebut dinilai masih mampu menopang profitabilitas perusahaan tambang nikel.
“Kondisi ini secara keseluruhan berdampak positif bagi perusahaan tambang nikel,” tulis analis Maybank.