"Namun kalau kita lihat bahwa pelemahannya itu masih moderat, yaitu di 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI dan juga kemarin di 1,85 persen di 18 Mei setelah libur panjang," tutur dia.
Friderica menambahkan, kondisi ini menunjukkan mekanisme price discovery di pasar modal Indonesia yang semakin didasarkan pada faktor fundamental perusahaan, bukan semata sentimen jangka pendek.
Pergerakan IHSG, kata dia, kini lebih selaras dengan indeks acuan MSCI serta subindeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.
"Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental, tadi seperti saya sampaikan, dimana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentiment semata. Jadi ini menurut kami juga sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan," ujarnya.
Di tengah tekanan pasar, Friderica menyebut terdapat sejumlah indikator positif. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat meningkat Rp49,71 triliun sepanjang tahun berjalan, didorong oleh net subscription investor ritel.
Dengan kenaikan 6,39 persen, total dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp718,44 triliun.