Dalam riset tersebut, mereka menyoroti BBCA yang mencatat tingkat net write-off tertinggi dalam empat tahun terakhir pada 2025, dengan akselerasi yang tajam sejak pertengahan tahun.
Menurut Victor dan Naura, hal ini justru mencerminkan pembersihan neraca yang proaktif, bukan penurunan kualitas aset yang mendasarinya. Apalagi, BBCA pada umumnya melakukan write-off lebih awal (front-loading) ketika tingkat pemulihan dinilai rendah.
“Tingginya write-off tersebut merefleksikan kepercayaan terhadap ketahanan laba dan kekuatan permodalan, sehingga BBCA mampu secara agresif menghapus kredit bermasalah lama sambil tetap menjaga rasio NPL pada level struktural yang rendah. Secara keseluruhan, hal ini mendukung pandangan bahwa perbaikan kualitas aset BBCA bersifat bersih, tegas, dan berkelanjutan,” imbuh mereka.
Sementara itu, mereka turut menyoroti BBCA yang masih akan fokus pada segmen penyaluran kredit ke segmen korporasi blue chip. Alhasil, strategi tersebut mampu meminimalkan risiko kualitas aset di 2026.
Di tengah kondisi industri perbankan yang dibayangi risiko kualitas aset, pendekatan prudensial BBCA menjadi salah satu pertimbangan utama BRIDanareksa Sekuritas dalam merekomendasikan saham perseroan.