sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Koreksi Tajam IHSG, Momentum Koleksi Tiga Sektor Ini

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
09/03/2026 06:24 WIB
Pelemahan tajam pasar saham Indonesia dinilai membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah.
Koreksi Tajam IHSG, Momentum Koleksi Tiga Sektor Ini. (Foto: Freepik)
Koreksi Tajam IHSG, Momentum Koleksi Tiga Sektor Ini. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Pelemahan tajam pasar saham Indonesia dinilai membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah.

Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai sekitar 15 persen dari puncaknya dinilai lebih dipicu sentimen eksternal dibanding perubahan fundamental emiten.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra mengatakan, dalam riset pada 6 Maret 2026, tekanan terhadap pasar muncul setelah peringatan dari MSCI, penurunan outlook sovereign, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Namun, menurut dia, guncangan semacam ini dalam sejarah pasar biasanya hanya berlangsung sementara dan justru membuka peluang masuk yang menarik.

“Dengan pemilu sela atau paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang semakin dekat, Washington kemungkinan tidak akan membiarkan konflik geopolitik berlangsung terlalu lama. Karena itu, tekanan pasar saat ini lebih bersifat sentimen,” kata Arief dalam risetnya.

Di tengah koreksi pasar tersebut, saham-saham unggulan di sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumsi justru mengalami penurunan tajam meskipun fundamental bisnisnya tetap kuat.

Arief menilai tiga bank terbesar Indonesia berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan belanja fiskal pemerintah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bahkan diperkirakan bisa melampaui 6 persen.

Meski prospek tersebut cukup solid, harga saham bank-bank besar telah turun sekitar 30-40 persen dari puncaknya. Penurunan ini membuat valuasi price-to-book (P/B) tersirat terkompresi sekitar 35-45 persen.

Sucor Sekuritas menilai koreksi tersebut tidak sebanding dengan kondisi fundamental yang relatif tetap kuat, terutama pada metrik operasional inti.

Jika sentimen pasar mulai stabil, Arief memperkirakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berpotensi memberikan total return sekitar 35-45 persen dalam 16 bulan ke depan.

Selain perbankan, sektor telekomunikasi juga dinilai memasuki fase yang lebih sehat. Industri ini mulai melihat berakhirnya perang tarif average revenue per user (ARPU) yang berlangsung lama.

Pada saat yang sama, digitalisasi yang semakin cepat di kalangan rumah tangga maupun dunia usaha terus mendorong permintaan konektivitas data.

Adopsi kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat juga ikut meningkatkan konsumsi data secara signifikan.

Meski prospeknya positif, harga saham operator broadband justru terkoreksi cukup dalam.

Sucor Sekuritas mencatat saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) telah turun sekitar 35-50 persen dari puncak terakhirnya.

Saat ini keduanya diperdagangkan dengan diskon sekitar 60-70 persen dibanding estimasi nilai intrinsiknya.

Di sektor konsumsi atau consumer goods, Arief melihat tanda-tanda awal pemulihan terutama pada segmen masyarakat berpendapatan rendah. Perbaikan ini didorong oleh dorongan fiskal pemerintah.

Sinyal tersebut dinilai penting karena selama beberapa waktu terakhir sektor ini menghadapi tekanan daya beli.

Jika pertumbuhan ekonomi benar-benar melampaui 6 persen, daya beli rumah tangga diperkirakan akan membaik secara bertahap.

Dampaknya, pertumbuhan nominal pendapatan perusahaan konsumer berpotensi kembali mencapai dua digit.

Sucor Sekuritas menjagokan saham produsen makanan seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan potensi kenaikan sekitar 35 persen dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan potensi kenaikan sekitar 45 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement