Ketiganya digantikan oleh PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), serta PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang dinilai memiliki momentum pertumbuhan laba lebih kuat dalam jangka pendek.
Dengan perubahan tersebut, daftar saham unggulan CGSI kini terdiri atas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), UNVR, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS), JPFA, MAPA, BFIN, dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Selain mencermati kinerja emiten, CGSI menilai pasar juga akan dihadapkan pada sejumlah agenda penting sepanjang Agustus yang berpotensi memicu volatilitas.
Beberapa di antaranya adalah pembaruan status pembekuan (freeze) Indonesia dalam indeks FTSE pada 10-14 Agustus, penyampaian rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 pada 16 Agustus, serta potensi pengumuman gubernur baru Bank Indonesia (BI) pada periode 14-31 Agustus 2026.
Meski masih mewaspadai tingginya volatilitas akibat ketidakpastian ekonomi dan kebijakan pemerintah, CGSI tetap mempertahankan pandangan yang hati-hati optimistis terhadap prospek pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.