IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street dibuka melemah tipis pada perdagangan Kamis (16/4/2026) waktu setempat, seiring aksi profit taking investor setelah reli kuat yang mendorong indeks utama ke level tertinggi baru.
Melansir Investing, S&P 500 turun 0,1 persen ke level 7.015,34. Sementara Nasdaq Composite melemah 0,2 persen ke posisi 23.959,88, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,2 persen menjadi 48.375,72.
Pelemahan ini terjadi sehari setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru, didorong optimisme terhadap potensi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta solidnya kinerja emiten.
Pada perdagangan sebelumnya, S&P 500 melonjak 0,8 persen dan menembus level 7.000 untuk pertama kalinya sejak akhir Januari. Nasdaq bahkan melesat 1,6 persen, ditopang penguatan saham sektor teknologi dan perangkat lunak.
Kinerja tersebut menegaskan pemulihan cepat Wall Street setelah sempat tertekan tajam pada Maret akibat konflik di Timur Tengah. Saat itu, lonjakan harga minyak pasca serangan gabungan AS dan Israel ke Iran memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pasar saham.
Pada titik terendahnya, S&P 500 sempat turun lebih dari 9 persen dari rekor sebelumnya, sementara Nasdaq anjlok hampir 14 persen.
Namun, sentimen pasar berbalik sejak akhir Maret, didorong harapan deeskalasi konflik. Kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan antara AS dan Iran pada 7 April menjadi katalis utama, yang mendorong S&P 500 menguat sekitar 7,6 persen sepanjang bulan ini.
Analis Jim Reid dari Deutsche Bank menilai, kecepatan pemulihan pasar tergolong luar biasa. Dalam 11 sesi perdagangan terakhir, S&P 500 mencatatkan kenaikan lebih dari 10 persen, sebuah fenomena yang jarang terjadi.
“Reli secepat ini sangat jarang, rata-rata hanya terjadi sekali dalam beberapa tahun,” ujarnya.
Meski demikian, Kepala strategi makro LPL Financial, Kristian Kerr menilai, penguatan pasar saat ini lebih banyak didorong oleh penyesuaian posisi dan aksi short covering, bukan aliran dana baru yang kuat.
“Volume perdagangan relatif rendah dalam beberapa sesi terakhir, menunjukkan reli belum sepenuhnya didukung oleh masuknya modal baru,” tutur dia.
Dari sisi fundamental, sentimen pasar turut ditopang data ekonomi yang cukup solid. Pertumbuhan lapangan kerja AS pada Maret melampaui ekspektasi, sementara tekanan inflasi inti relatif terkendali meski harga energi meningkat.
Data terbaru juga menunjukkan klaim pengangguran awal di AS lebih rendah dari perkiraan, meski produksi industri pada Maret justru mencatat penurunan bulanan yang tidak terduga.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik, terutama terkait jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
(DESI ANGRIANI)