AALI
9675
ABBA
314
ABDA
6975
ABMM
1360
ACES
1260
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3450
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2280
AGAR
360
AGII
1410
AGRO
1320
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
68
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1075
AKRA
735
AKSI
660
ALDO
1405
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
274
Market Watch
Last updated : 2022/01/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.18
0.2%
+0.99
IHSG
6645.51
0.52%
+34.35
LQ45
949.77
0.29%
+2.75
HSI
23550.08
-1.08%
-256.92
N225
26717.34
2.09%
+547.04
NYSE
0.00
-100%
-16236.51
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,364
Emas
829,485 / gram

Pasar Modal Mulai Pulih, Ini Alasan Minat Investor Bangkit

MARKET NEWS
Shifa Nurhaliza
Kamis, 04 Maret 2021 17:30 WIB
Pasar modal Indonesia saat ini sudah mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.
Pasar modal Indonesia saat ini sudah mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. (Foto: MNC Media)
Pasar modal Indonesia saat ini sudah mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Pasar modal Indonesia saat ini sudah mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Hal itu ditunjukkan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali menyentuh level 6.000.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Roger MM, menilai bahwa pada transaksi pasar saham lebih ramai pada Maret 2021. Hal itu disebabkan beberapa faktor yang membuat pasar lebih atraktif sehingga akan memancing minat investor pasar modal bertransaksi.

“Salah satunya jika dilihat secara musiman, Maret menjadi bulan para perusahaan melakukan publikasi laporan keuangan emiten bursa. Di tengah musim itu, Mirae Asset Sekuritas mencatat ada beberapa sektor yang diprediksi mencatatkan laba lebih baik secara tahunan maupun kuartalan,” jelas Roger dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/3/21). 

Sektor tersebut adalah bahan baku seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT. Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), dan PT. Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Posisi kedua yaitu sektor barang konsumsi primer seperti PT. Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT. Malindo Feedmill Tbk (MAIN).

Posisi ketiga adalah sektor Energi seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Keempat yaitu sektor kesehatan seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). 

“Beberapa dari emiten tersebut di atas sudah merilis laporan keuangan tahun buku 2020 seperti AALI, LSIP, JPFA, ITMG, INCO, dan SIDO,” tandasnya.

Roger mengatakan, ada beberapa emiten yang diprediksi memberikan dividen per lembar saham dengan cukup tinggi, salah satunya PTBA. “Dari aksi right issue, sekurangnya ada empat emiten yang siap menggelar aksi penambahan modal tersebut yaitu FREN, CENT, ENRG, ARTO, dan SAME. Aksi korporasi lain yang rencananya digelar pada “bulan tiga” adalah stock split yang akan di lakukan oleh emiten ERAA,” pungkasnya.

Ketiga faktor utama tersebut diprediksi akan membuat nilai transaksi bursa pada Maret dapat lebih ramai daripada Februari. “Rata-rata per harinya bisa mencapai sekitar Rp 15 trilun,” tandas Roger. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD