Penurunan ini dinilai sejalan dengan pola musiman, dengan kontribusi baru sekitar 23 persen dari target tahunan.
Di antara emiten, hanya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang diproyeksikan mampu mencatat pertumbuhan volume secara kuartalan, sejalan dengan panduan perusahaan.
Sebaliknya, emiten lain diperkirakan mengalami penurunan volume cukup dalam, berkisar 16 persen hingga 26 persen, dengan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat penurunan terdalam akibat basis tinggi pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi kinerja, laba bersih inti sektor diperkirakan turun 35 persen secara kuartalan menjadi Rp1,9 triliun pada 1Q26, terutama dipicu oleh lemahnya volume penjualan dan kenaikan biaya pupuk.
Meski demikian, capaian ini masih dinilai sejalan dengan proyeksi analis dan berada di atas konsensus pasar.