Meski demikian, dampak kenaikan biaya pupuk dinilai sudah sebagian besar tercermin pada emiten seperti AALI dan LSIP, sementara DSNG berpotensi menghadapi risiko penurunan laba sekitar 3 persen dari proyeksi awal.
Untuk TAPG, dampaknya diperkirakan paling terbatas karena struktur biaya pupuk yang telah dikontrak sebelumnya.
Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini. Prospek perbaikan kinerja didukung oleh potensi pengetatan pasokan ekspor dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia dan B12 di Malaysia.
Pada kuartal II dan III 2026, laba sektor diproyeksikan pulih masing-masing 41 persen dan 29 persen secara kuartalan, didorong oleh kenaikan harga dan volume penjualan.
TAPG dan DSNG tetap menjadi pilihan utama, dengan preferensi pada TAPG berkat eksposur harga spot yang lebih tinggi, biaya pupuk yang lebih terkendali, serta imbal hasil dividen yang menarik di kisaran 10 persen hingga 12 persen.