Sisi moneter global turut menjadi beban bagi rupiah seiring bergesernya kepemimpinan Bank Sentral AS ke tangan Kevin Walsh. Karakter kepemimpinan Walsh dinilai jauh lebih hawkish dan agresif demi mengejar target inflasi di level 2 persen dengan mengubah pola komunikasi yang lama.
"Arah kebijakan moneter Kevin Walsh itu diprioritaskan itu yang pertama adalah suku bunga tetap dengan sinyal kemungkinan besar akan dinaikkan, nah ini yang pertama, Jemudian yang kedua penghapusan forward guidance ya jadi secara resmi bank sentral Amerika itu menghentikan praktek pemberian panduan ke depan, kebijakan ini diambil agar pasar tidak berspekulasi dan lebih berfokus pada dinamika indikator ekonomi makro yang objektif sama seperti Bank Indonesia banyak kebijakan-kebijakan tujuannya adalah untuk menguatkan mata uang rupiah walaupun rupiahnya tidak menguat," kata Ibrahim.
Terakhir, dari aspek supply dan demand, penurunan harga emas global dimanfaatkan secara masif oleh jajaran bank sentral dunia untuk memborong emas batangan sebagai langkah lindung nilai dan dedolarisasi. Sepanjang kuartal I 2026 saja, total pembelian emas oleh bank sentral dunia telah menembus 244 ton.
(Rahmat Fiansyah)