AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Pergerakan IHSG Pekan Ini Dipengaruhi Banyak Sentimen, Cek Penjelasan Analis

MARKET NEWS
Aditya Pratama/iNews
Senin, 20 September 2021 09:04 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pekan keempat September 2021 akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pekan keempat September 2021 akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pekan keempat September 2021 akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.

Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee mengatakan, sentimen pertama IHSG akan dipengaruhi pada kemungkinan pengesahan paket anggaran Presiden Joe Biden senilai USD 3,5 triliun. Dalam paket tersebut di perkirakan mencakup usulan kenaikan tarif pajak perusahaan menjadi 26,5 persen dari 21 persen. Ada kekhawatiran bahwa potensi kenaikan pajak korporasi dapat menurunkan pendapatan perusahaan sehingga membebani pasar.

"Analis Goldman Sachs melihat tarif pajak perusahaan mungkin naik menjadi menjadi 25 persen dan diloloskannya sekitar setengah dari usulan kenaikan tarif pajak pada foreign income. Prediksi Goldman Sachs dampak kenaikan pajak akan mengurangi laba S&P 500 sebesar 5 persen pada tahun 2022. Kenaikan pajak akan jadi sentiment negative bagi Pasar saham USA, tapi berpotensi mendorong aliran dana asing pindah ke negara berkembang," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Senin (20/9/2021).

Selanjutnya, fokus pelaku pasar saat ini adalah pada pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) minggu depan pada tanggal 21-22 September 2021. Para investor memperdebatkan apakah kumpulan data ekonomi yang kuat minggu lalu dapat mendorong Federal Reserve untuk mempersingkat waktunya untuk mengurangi stimulus moneter.

Ada banyak anggota di FOMC yang mendukung dimulainya tapering tahun ini. Tapering mendorong dolar lebih kuat karena menunjukkan The Fed selangkah lebih dekat menuju kebijakan moneter yang lebih ketat. Ini juga berarti The Fed akan membeli lebih sedikit aset surat utang, yang pada dasarnya mengurangi jumlah dolar yang beredar dan meningkatkan nilai mata uang tersebut.

"Penurunan supply dolar dan penguatan dolar mendorong dana keluar dari negara berkembang Kembali ke Amerika Serikat dalam jangka pendek," kata dia.

Lalu, data penjualan ritel yang solid, yang menunjukkan kekuatan pemulihan ekonomi AS dan meredakan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi. Data penjualan ritel Agustus naik 0,7 persen (mom), berbanding terbalik dengan sebelumnya yang terkontraksi -1.8 persen dan lebih baik dari konsensus yang masih mengharapkan adanya kontraksi -0.8 persen mom.

Hal ini membuktikan ketahanan konsumen yang berkontribusi sekitar 70 persen terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Kenaikan ini sebagian didorong belanja terkait kebutuhan sekolah dan pembayaran kredit pajak anak. Terjadi penjualan yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan ditopang oleh penjualan ritel non-toko (+5.3 persen), furniture (+3.7 persen), toko merchandise (+3.5 persen) serta toko makanan dan minuman (+1.8 persen).

Kemudian, data yang dirilis menunjukkan penjualan ritel China tumbuh lebih rendah dari perkiraan. Ritel sales periode Agustus tumbuh 2,5 persen jauh di bawah perkiraan para analis naik sebesar 7 persen. Sedangkan produksi industri China juga tumbuh di bawah perkiraan. Produksi industri tumbuh 5,3 persen di bawah perkiraan sebesar 5,8 persen.

Pelemahan data ekonomi China meningkatkan lagi kecemasan atas perlambatan global di tengah kegelisahan atas pandemi yang dominan serta pengurangan kebijakan stimulus bank sentral. Data ekonomi di China menunjukkan dunia bisnis setempat bergulat dengan dampak lockdown lokal setelah penyebaran Covid-19 varian Delta, hambatan pasokan dan kenaikan biaya bahan baku.

"Angka penjualan ritel China menggarisbawahi sinyal melemahnya momentum ekonomi di China dan menambah ekspektasi Beijing akan menawarkan lebih banyak stimulus selama beberapa bulan ke depan," ucapnya.

Selanjutnya, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada Agustus 2021, bahkan menorehkan rekor baru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca dagang pada bulan lalu mencapai USD 4,74 miliar. Capaian surplus ini jauh lebih tinggi dari surplus neraca dagang di bulan Juli 2021 yang sebesar USD 2,59 miliar.

Realisasi surplus neraca dagang di bulan Agustus adalah yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia karena berhasil menggantikan surplus neraca dagang tertinggi yang dicetak pada Desember 2006. Kala itu, surplus neraca dagang mencapai USD4,64 miliar. Ekspor komoditas masih menjadi pendorong utama surplus ini.

Terakhir, pekan ini pelaku pasar menanti perkembangan dari the Fed. Ada FOMC Economic Projections, FOMC Statement, Fed Funds Rate dan FOMC Press Conference. Akhir pekan ada Fed Chair Powell Speaks dan FOMC Member Williams Speaks. Potensi kenaikan pajak di Amerika Serikat juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Sementara itu, dari dalam negeri data menunjukan ekonomi Indonesia dalam fase pemulihan yang cepat dan baik dan di dukung angka covid 19 yang terus turun.

"Pelaku pasar akan berhati-hati menjelang rapat the Fed, IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.047 sampai 5.938 dan resistance di level 6.150 sampai 6.263," tuturnya. (TIA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD