IDXChannel - Setelah mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada 2026, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kini menghadapi sejumlah dinamika baru, mulai dari regulasi komisi ojek online (ojol) hingga perubahan aturan harga saham minimum.
Emiten teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay tersebut mencatatkan laba bersih semesteran untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 2026.
Pada periode Januari-Juni 2026, laba bersih GoTo mencapai Rp608 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp580 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski telah mencatatkan bottom-line positif, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada keberlanjutan kinerja bisnis GoTo, terutama menyusul regulasi potongan komisi aplikasi yang dipangkas menjadi 8 persen dari sebelumnya 20 persen.
Skema komisi terbaru telah berlaku untuk layanan angkutan roda dua sejak 1 Juli 2026.
Sementara itu, untuk layanan pengantaran makanan dan barang, pemerintah masih menyusun kerangka pengaturan yang disesuaikan dengan karakteristik bisnis masing-masing, baik melalui Peraturan Presiden (Perpres) maupun aturan teknis dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintah tengah mencari titik keseimbangan yang adil bagi mitra pengemudi maupun perusahaan aplikator dalam mengatur layanan pengantaran barang dan makanan.
“Kita coba pastikan bahwa semua proses itu berlangsung secara fair, sehingga pengemudi mendapatkan haknya ya dengan cukup fair dan juga platform bisa mendapatkan margin yang pantas sehingga mereka juga bisa sustain,” ujar Nezar.
Di sisi lain, GoTo juga menjadi perhatian seiring rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus aturan harga saham minimum yang dapat diperdagangkan di level Rp50, atau biasanya disebut saham gocap, untuk seluruh papan pencatatan.
Jika aturan tersebut diterapkan, harga saham secara teoritis dapat diperdagangkan hingga level Rp1.
Meski masih berupa rencana, kebijakan tersebut cukup menyita perhatian pasar. Saham GoTo telah diperdagangkan di level Rp50 selama lebih dari tiga bulan sejak munculnya pengumuman terkait aturan komisi ojol.
Saham ini juga kemudian dikeluarkan dari sejumlah seri indeks global FTSE dan MSCI.
“Aturan komisi dan rencana floor price Rp50 dihapus memang jadi dinamika baru untuk GoTo dan investornya,” kata analis MNC Sekuritas Christian.
Namun, ia juga menegaskan bahwa aturan baru ini justru memiliki dampak positif untuk saham GOTO.
“Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu. Kontras dengan kondisi di Rp50 ketika ada antrean jual lebih banyak dari beli sehingga transaksi tidak matched,” tutur dia.
Christian menilai potensi penurunan harga dapat memicu fenomena short term pain.
Namun, setelah itu, likuiditas perdagangan berpotensi membaik sehingga proses price discovery maupun price recovery dapat berlangsung.
“Dengan kondisi harga saham saat ini di Rp50 memang ada technical overhang, di mana passive fund yang harus keluar dari saham GoTo karena eksklusi FTSE dan MSCI, tetapi mereka tertahan. Dengan aturan baru, memungkinkan mereka bisa rebalancing, sehingga harapannya tidak ada lagi masalah overhang seperti ini,” imbuh Christian.
Senada, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz menilai perubahan aturan batas harga terendah saham berpotensi memunculkan tekanan secara temporer akibat technical overhang.
Namun, setelahnya, pergerakan harga saham dinilai akan kembali lebih ditentukan oleh fundamental perusahaan.
“Saya melihat ruang GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay,” ujar Abdul Aziz.
Meski demikian, dia menilai kepastian regulasi masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Selama regulasi tetap memberikan ruang dan fleksibilitas bagi platform, keberlanjutan bisnis dinilai dapat terjaga.
“Saat ini kepastian regulasi memang sangat dinanti. Ketika keberlanjutan ekosistem jadi prioritas regulasi, ini akan menjadi sentimen dan katalis positif untuk saham GoTo,” kata Abdul Aziz.
GoTo dinilai masih dapat mempertahankan momentum profitabilitas apabila regulasi memberikan fleksibilitas dalam penentuan pricing dan kualitas layanan.
Dengan skenario tersebut, Abdul Aziz memperkirakan GoTo berpeluang mencapai target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp3,2-Rp3,4 triliun untuk sepanjang 2026.
Di tengah perkembangan tersebut, pasar juga mencermati keterbukaan informasi mengenai Morgan Stanley yang membeli saham GOTO di harga Rp23 berdasarkan Keterbukaan Informasi pada 26 Agustus 2026.
Dengan transaksi tersebut, Morgan Stanley tercatat menjadi salah satu pemegang saham GoTo dengan kepemilikan hampir 59,4 miliar saham atau sekitar 5,2 persen dari total saham beredar.
Sebelumnya, Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengatakan bisnis fintech perusahaan terus menunjukkan perkembangan.
Profitabilitas segmen fintech bahkan telah melampaui bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya, mencerminkan perubahan komposisi kontribusi dalam ekosistem GoTo.
“Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-Rp3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans, dalam siaran pers pada Juli lalu. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.