“Saya melihat ruang GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay,” ujar Abdul Aziz.
Meski demikian, dia menilai kepastian regulasi masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Selama regulasi tetap memberikan ruang dan fleksibilitas bagi platform, keberlanjutan bisnis dinilai dapat terjaga.
“Saat ini kepastian regulasi memang sangat dinanti. Ketika keberlanjutan ekosistem jadi prioritas regulasi, ini akan menjadi sentimen dan katalis positif untuk saham GoTo,” kata Abdul Aziz.
GoTo dinilai masih dapat mempertahankan momentum profitabilitas apabila regulasi memberikan fleksibilitas dalam penentuan pricing dan kualitas layanan.
Dengan skenario tersebut, Abdul Aziz memperkirakan GoTo berpeluang mencapai target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp3,2-Rp3,4 triliun untuk sepanjang 2026.