IDXChannel - Di tengah ancaman arus keluar modal asing akibat ketidakpastian klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, investor dinilai perlu lebih selektif dalam memilih saham.
BRI Danareksa Sekuritas menyarankan investor mencermati saham dengan eksposur terhadap aksi jual asing yang relatif rendah, serta emiten yang memiliki katalis spesifik dan fundamental bisnis yang tangguh.
Dalam risetnya, analis BRI Danareksa Sekuritas membagi saham pilihan ke dalam dua kelompok.
Pertama, saham non-konstituen MSCI yang memiliki katalis spesifik. Kedua, saham konstituen MSCI dengan kepemilikan asing relatif rendah.
Strategi tersebut dinilai relevan untuk menghadapi potensi tekanan jual, seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI.
Untuk kelompok pertama, BRI Danareksa memasukkan sembilan saham, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan target harga Rp6.000, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) Rp1.400, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp530, PT Elnusa Tbk (ELSA) Rp1.110.
Kemudian, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp70, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp3.430, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) Rp480, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) Rp3.150, serta PT Timah Tbk (TINS) Rp4.800.
Sementara itu, kelompok kedua mencakup enam saham konstituen MSCI, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp12.400, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp3.300, PT Astra International Tbk (ASII) Rp6.850.
Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp4.800, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp700, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp9.200.
Menariknya, kepemilikan asing yang tinggi tidak serta-merta membuat suatu saham harus dihindari.
BRI Danareksa Sekuritas menilai ASII dan PT United Tractors Tbk (UNTR) tetap menarik karena aksi jual bersih investor asing pada kedua saham tersebut relatif terbatas ketika pasar mengalami koreksi tajam pada 16 Oktober 2026.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa perilaku investor asing dan ketahanan suatu saham terhadap tekanan jual perlu menjadi pertimbangan, bukan sekadar besarnya porsi kepemilikan asing.
Selain itu, koreksi pasar turut membuka peluang pada saham-saham dengan imbal hasil dividen yang menarik.
Namun, BRI Danareksa mengingatkan bahwa dividend yield yang tinggi tidak cukup untuk melindungi investor dari risiko penurunan harga saham.
Karena itu, investor tetap perlu memprioritaskan keberlanjutan pembayaran dividen dan ketahanan laba perusahaan.
Emiten dengan kemampuan menghasilkan laba yang relatif stabil dan kebijakan pembagian dividen yang berkelanjutan dinilai lebih menarik untuk menghadapi volatilitas pasar.
Potensi Outflow hingga USD16 Miliar
Di luar strategi pemilihan saham, BRI Danareksa juga menyoroti risiko arus keluar modal asing apabila Indonesia mengalami perubahan klasifikasi pasar oleh MSCI.
Dalam analisis stress test, sekuritas ini menguji tiga skenario, yakni penurunan status menjadi Frontier Market (FM), Advanced Frontier, dan Standalone Market.
Skenario Standalone dinilai paling berisiko karena Indonesia tidak lagi memenuhi syarat untuk memperoleh alokasi dari benchmark pasar berkembang maupun pasar frontier.
Dalam skenario tersebut, akumulasi arus keluar modal asing hingga kuartal IV-2027 diperkirakan mencapai USD14 miliar hingga USD16 miliar.
Angka ini jauh lebih besar dibandingkan estimasi USD7 miliar hingga USD9 miliar dalam skenario Frontier Market maupun Advanced Frontier.
BRI Danareksa memperkirakan tekanan penjualan aktif atau active selling dapat terkonsentrasi pada kuartal IV-2026, dengan potensi sekitar USD4 miliar.
Sementara itu, tekanan penjualan pasif atau passive selling diperkirakan terjadi pada kuartal III-2027, menyusul keputusan final MSCI.
Besarnya tekanan jual aktif pada akhirnya akan bergantung pada perkembangan penegakan aturan, tingkat kepercayaan investor, dan valuasi saham.
Penegakan aturan yang lebih kredibel berpotensi meredam aksi jual lanjutan sebelum keputusan final MSCI ditetapkan.
Dalam estimasi lainnya, potensi passive outflow diperkirakan mencapai USD2,5 miliar hingga USD6 miliar, dengan skenario dasar sebesar USD4 miliar.
Estimasi tersebut menggunakan asumsi penurunan status penuh ke Standalone Market yang diikuti keluarnya saham Indonesia dari indeks komposit MSCI.
Lebih lanjut, potensi active selling memiliki tingkat ketidakpastian lebih tinggi.
Dengan mempertimbangkan kepemilikan asing non-pasif sekitar USD35,4 miliar, simulasi penjualan sebesar 5 persen, 10 persen, dan 20 persen menghasilkan potensi arus keluar tambahan masing-masing USD1,8 miliar, USD3,5 miliar, dan USD7,1 miliar.
Dalam skenario dasar, kombinasi penjualan aktif dan pasif diperkirakan menghasilkan arus keluar sekitar USD7,5 miliar.
Dampak aktualnya akan dipengaruhi oleh waktu dan konsentrasi penjualan, terutama pada saham perbankan besar yang menyumbang sekitar 72 persen bobot indeks MSCI Indonesia Standard.
BRI Danareksa menilai kapasitas institusi domestik dapat menjadi penyeimbang sebagian tekanan tersebut.
Dana pensiun dan perusahaan asuransi memiliki aset sekitar Rp2.706 triliun, tetapi diperlukan peningkatan alokasi investasi ke saham sekitar 7 poin persentase untuk sepenuhnya mengimbangi arus keluar dalam skenario dasar.
Penyesuaian sebesar itu dinilai lebih realistis berlangsung secara bertahap.
Preseden Negara Lain Tidak Sepenuhnya Sejalan
BRI Danareksa juga menelaah pengalaman sejumlah negara yang mengalami perubahan klasifikasi MSCI, termasuk Argentina, Nigeria, Pakistan, Rusia, dan Turki.
Namun, preseden tersebut dinilai memiliki relevansi terbatas untuk Indonesia karena perbedaan kondisi pasar dan pemicu perubahan status.
Argentina diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone pada 2021, antara lain dalam konteks kontrol modal.
Nigeria mengalami penurunan dari Frontier Market menjadi Standalone pada 2023-2024 akibat kendala repatriasi valuta asing.
Sementara itu, Pakistan turun dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada 2021, dengan ukuran dan likuiditas pasar yang relatif terbatas.
Kasus Rusia pada 2022 juga tidak dapat dibandingkan secara langsung karena perubahan statusnya dipicu oleh sanksi luar biasa.
Turki pada 2026 dinilai memiliki kemiripan dalam hal kekhawatiran terhadap integritas pasar, meskipun MSCI mengambil pendekatan pembekuan perubahan indeks atau index freeze, bukan langsung menurunkan klasifikasi pasar.
BRI Danareksa mencatat bahwa bobot Indonesia dalam indeks MSCI yang tersisa sekitar 0,43 persen masih lebih besar dibandingkan eksposur Argentina ketika negara tersebut dikeluarkan dari indeks, yakni sekitar 0,12 persen.
Kondisi ini membuka kemungkinan arus keluar absolut yang lebih besar, meskipun Indonesia memiliki basis investor domestik yang lebih dalam. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.