Di sisi permintaan, konsumsi minyak global diperkirakan hanya tumbuh moderat, sekitar 0,5 hingga 1,2 juta barel per hari pada 2026. Produksi shale oil Amerika Serikat juga diproyeksikan menurun, yang bersama risiko geopolitik diperkirakan akan membentuk batas bawah harga di sekitar USD60 per barel, menurut Analis Komoditas Utama EIU Matthew Sherwood.
Sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia, Lukoil dan Rosneft, dinilai berpotensi menimbulkan gangguan pasokan jangka pendek.
Namun, analis menilai dampaknya tidak akan berkelanjutan karena minyak Rusia diperkirakan kembali masuk pasar melalui armada bayangan dan perantara.
Sejumlah bank investasi tetap berhati-hati. Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga Brent untuk paruh pertama 2026 menjadi USD60 per barel, seiring keputusan OPEC+ menahan kenaikan kuota dan sanksi terbaru terhadap aset minyak Rusia.
Namun, bank tersebut juga memperkirakan surplus besar akan terjadi, terutama pada kuartal kedua 2026.