sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Prospek INCO-NCKL Cs di Tengah Isu Pemangkasan Kuota Tambang

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
21/01/2026 07:23 WIB
Sektor logam dinilai menarik seiring potensi pemangkasan kuota tambang yang dinilai dapat memicu reli berbasis pasokan, khususnya pada komoditas nikel.
Prospek INCO-NCKL Cs di Tengah Isu Pemangkasan Kuota Tambang. (Foto: Merdeka Battery)
Prospek INCO-NCKL Cs di Tengah Isu Pemangkasan Kuota Tambang. (Foto: Merdeka Battery)

IDXChannel – Sektor logam dinilai menarik seiring potensi pemangkasan kuota tambang yang dinilai dapat memicu reli berbasis pasokan, khususnya pada komoditas nikel.

Kenaikan harga nikel setidaknya dalam dua pekan terakhir dipicu spekulasi pasar terkait kemungkinan pengurangan kuota penambangan bijih oleh pemerintah Indonesia.

Seiring dengan itu, dalam riset yang terbit pada 14 Januari 2026, Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor tambang logam.

Sejak laporan sektoral terakhir dirilis, harga saham emiten tambang logam dalam cakupan Bahana telah menguat dan mencapai target harga sebelumnya.

Merespons hal tersebut, Bahana menaikkan target harga berbasis valuasi untuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta merevisi naik target harga berbasis sum of the parts analysis (SOTP) untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan Trimegah Bangun Persada (NCKL).

Kenaikan target harga ini mencerminkan rerating global sektor logam, di mana rata-rata valuasi emiten sejenis di pasar global kini diperdagangkan pada EV/EBITDA untuk tahun fiskal 2026-2027 sebesar 10,7 kali (x)/8,6x, naik dari 8,5x/6,6x pada November 2025.

Bahana menambahkan MDKA sebagai saham pilihan utama dan mempertahankan NCKL, dengan alasan emiten tambang terintegrasi dinilai lebih berpeluang merealisasikan kuota dibandingkan produsen yang bergantung pada penjualan pihak ketiga.

Meski demikian, Bahana menilai keberlanjutan reli harga sangat bergantung pada eksekusi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Komentar terbaru dari Kementerian ESDM mengindikasikan penyesuaian kuota akan mengikuti kebutuhan smelter, yang berpotensi meredam ekspektasi pemangkasan tajam hingga 34 persen secara tahunan.

Namun, potensi kenaikan harga masih terbuka jika pengendalian pasokan diperketat, sebagaimana pernah terjadi pada minyak sawit mentah (CPO) dan timah.

Bahana juga menilai reli harga saham saat ini lebih didorong oleh posisi spekulatif, bukan oleh pengetatan pasokan fisik.

Hal ini tercermin dari lonjakan posisi net long investor di London Metal Exchange (LME), sementara persediaan nikel di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) masih berada di level tertinggi.

Jika pemangkasan kuota benar-benar terjadi hingga sekitar 100 juta wet metric ton bijih, Bahana memperkirakan produksi logam nikel dapat turun 0,7-1,0 juta wmt, cukup untuk menyerap proyeksi kelebihan pasokan nikel kelas-1 sekitar 260 ribu ton pada 2026.

Menurut hemat Bahana, risiko utama tetap berasal dari pelemahan harga nikel, ketidakpastian kebijakan, serta keterlambatan eksekusi proyek. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement