Dari sisi neraca, total aset PTBA mencapai Rp51,55 triliun per 30 September 2026, naik 17 persen dibandingkan akhir 2025. Total liabilitas meningkat 14 persen menjadi Rp24,31 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 20 persen menjadi Rp27,24 triliun. Arus kas bersih dari aktivitas operasi juga naik 9 persen menjadi Rp4,44 triliun.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno menambahkan, ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan.
"Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Eko.
Memasuki sisa tahun 2026, PTBA akan memperkuat efisiensi operasional, mengoptimalkan pasar domestik dan ekspor, serta mempercepat pengembangan infrastruktur logistik, termasuk Proyek Tanjung Enim-Kramasan. Perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton sepanjang 2026, dengan belanja modal Rp3,64 triliun.
(Rahmat Fiansyah)