sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rebalancing MSCI Tekan IHSG, Analis Waspadai Koreksi ke 6.650

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
15/05/2026 10:15 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji area support 6.700 hingga 6.650.
Rebalancing MSCI Tekan IHSG, Analis Waspadai Koreksi ke 6.650. (Foto: MNC Media)
Rebalancing MSCI Tekan IHSG, Analis Waspadai Koreksi ke 6.650. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji area support 6.700 hingga 6.650 setelah sentimen rebalancing MSCI menekan pasar saham domestik.

Phintraco Sekuritas mencatat, IHSG ditutup melemah 1,98 persen ke level 6.723,320 pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Tekanan muncul setelah sejumlah saham dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index dalam hasil review kuartalan MSCI Mei 2026.

Meski demikian, Phintraco menilai tekanan dari arus keluar dana asing tidak sebesar proyeksi awal pasar. Investor juga optimistis bahwa Indonesia tetap dalam kategori Emerging Market.

“Sebagian arus dana keluar selama ini juga dinilai telah mengantisipasi langkah MSCI tersebut,” tulis Phintraco dalam risetnya.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut tidak semua saham yang keluar dari MSCI Global Small Cap Index disebabkan oleh penurunan kinerja maupun melemahnya kapitalisasi pasar.

Sebagian emiten justru keluar karena kapitalisasi pasarnya meningkat dan dinilai layak masuk ke kelompok indeks yang lebih tinggi.

Namun, perpindahan kategori tersebut belum dapat dilakukan akibat adanya pembekuan sementara dari MSCI.

Secara teknikal, Phintraco melihat pelebaran histogram negatif pada indikator MACD masih berlanjut, seiring stochastic RSI yang bergerak menuju area oversold. Kondisi ini dinilai membuka peluang IHSG kembali menguji area support jangka pendek.

“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi uji level 6.700-6.650 pada perdagangan pekan depan,” tulis Phintraco.

Penyusutan Bobot

Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) diperkirakan menyusut tajam menjadi sekitar 0,5 persen dari sebelumnya 0,7 persen setelah hasil rebalancing MSCI Mei 2026 memicu gelombang pengurangan saham Indonesia di indeks global.

Kondisi ini dinilai berpotensi memicu arus keluar dana asing puluhan triliun rupiah, sekaligus menekan sentimen pasar dalam jangka pendek.

Menurut riset Mirae Asset Sekuritas tertanggal Rabu (13/5/2026), MSCI mengeluarkan enam emiten dari indeks Standard Cap. Dari enam saham tersebut, hanya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang dipindahkan ke indeks Small Cap.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sepenuhnya terdepak dari indeks MSCI.

Tak hanya itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari indeks Small Cap, yakni PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Kemudian, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Dengan demikian, total ada 19 saham Indonesia yang dieliminasi dalam rebalancing kali ini.

Mirae menilai hasil tersebut mencerminkan dampak pembekuan rebalancing sejak Januari lalu yang berkaitan dengan isu transparansi kepemilikan saham. Meski demikian, pasar mulai melihat risiko Indonesia keluar dari kategori emerging market mulai mereda.

“Deletion without addition mendominasi,” tulis analis Mirae dalam risetnya.

Mirae memperkirakan penurunan bobot Indonesia di MSCI EM hingga sekitar 27 persen tersebut dapat memicu arus keluar dana gabungan pasif dan aktif sekitar USD1,7 miliar dari enam saham yang keluar dari Standard Cap.

Jika memperhitungkan penurunan bobot saham konstituen lainnya, total potensi outflow diproyeksikan mencapai sekitar USD2,8 miliar.

Meski tekanan jual diperkirakan masih berlanjut menjelang implementasi efektif pada 29 Mei 2026, Mirae menilai sebagian besar sentimen negatif telah tercermin di pasar.

“Tekanan menjelang implementasi 29 Mei masih mungkin, namun yang terburuk sebagian besar terlewati—sentimen diperkirakan pulih bertahap,” tulis Mirae.

Pandangan berbeda disampaikan Phintraco Sekuritas yang menilai hasil rebalancing MSCI kali ini justru berada di bawah ekspektasi pasar karena jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih besar dari perkiraan awal.

“Rebalancing MSCI Mei 2026 cenderung di bawah ekspektasi pasar, karena jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih banyak dari perkiraan awal,” tulis Phintraco dalam risetnya.

Phintraco menilai kondisi tersebut mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes yang menjadi acuan utama investor institusi global. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement