CGSI memangkas target harga SIDO menjadi Rp370 per saham dari sebelumnya Rp580 per saham.
Penyesuaian tersebut mencerminkan revisi proyeksi laba serta kenaikan asumsi biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital/WACC) menjadi 11,9 persen dari sebelumnya 10,8 persen akibat meningkatnya volatilitas makroekonomi.
Meski demikian, saham SIDO dinilai telah mengalami koreksi cukup dalam, yakni turun 31 persen sejak awal tahun (year to date/YTD).
Saat ini saham tersebut diperdagangkan pada valuasi 8,6 kali price to earnings (P/E) forward satu tahun, atau sekitar 2,4 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun, dengan dukungan potensi imbal hasil dividen 2026 sekitar 9 persen.
CGSI menyebut katalis positif bagi SIDO dapat berasal dari membaiknya kondisi fiskal serta penurunan harga kemasan.