Di sisi lain, analis juga memperingatkan potensi short-term squeeze di London Metal Exchange (LME).
Risiko itu dipicu oleh minimnya persediaan tembaga yang tersedia untuk pengiriman (on-warrant inventories), terus menurunnya stok yang terlihat di China, serta tingginya pembelian dari Amerika Serikat menjelang potensi pengumuman tarif baru.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 200.000 ton tembaga masuk ke pelabuhan Amerika Serikat (AS) sepanjang Juli, menjadi arus impor bulanan terbesar dalam lebih dari satu dekade.
Sementara itu, The Wall Street Journal (WSJ) menilai reli harga tembaga tidak hanya dipengaruhi gangguan pasokan, tetapi juga lonjakan permintaan yang berasal dari pembangunan infrastruktur AI.
Logam tersebut menjadi komponen utama untuk pusat data, jaringan listrik, hingga berbagai perangkat elektrifikasi.