Dikutip dari Reuters, Jumat (23/1), kontrak nikel tiga bulan di LME melesat dari titik terendah pertengahan Desember di USD14.235 per metrik ton ke puncak USD18.905 pada 14 Januari, level yang terakhir kali tercatat pada 2022.
Kebangkitan harga nikel dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia Bahlil Lahadalia pada pertengahan Desember, yang berjanji akan memangkas produksi.
Seorang pejabat Kementerian ESDM mengonfirmasi pada 14 Januari bahwa izin usaha pertambangan tahunan tahun ini akan dipangkas menjadi 250-260 juta ton basah bijih, dari 379 juta ton pada 2025.
Mengingat Indonesia menyumbang sekitar 65 persen pasokan nikel global dan selama dua tahun terakhir menjadi sumber kelebihan pasokan yang menekan harga, kabar ini dinilai berdampak besar.
Rencana Indonesia memangkas produksi nikel menyimpan banyak detail krusial di balik angka-angka besar yang beredar.