FINI memperkirakan permintaan bijih smelter justru meningkat menjadi 340-350 juta ton tahun ini, sehingga menciptakan kesenjangan pasokan yang hanya sebagian bisa ditutup melalui impor dan pelepasan stok.
Menurut Andy Home, kondisi ini menempatkan pemerintah pada dilema: menahan pasokan bijih tanpa mengganggu smelter yang masih dalam tahap pembangunan atau peningkatan kapasitas.
Di sisi lain, kebijakan sumber daya Indonesia berfokus pada hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, dari bijih mentah hingga produk nikel jadi.
Jika ketegangan antara kuota produksi dan kebutuhan smelter semakin tajam, Andy Home menilai pemerintah masih memiliki ruang penyesuaian melalui evaluasi tengah tahun.
“Angka izin pertambangan tahunan bisa menjadi target yang bergerak seiring berjalannya waktu,” tulis Andy.