Kolumnis senior sektor logam Reuters Andy Home menilai, pemangkasan kuota pertambangan tidak serta-merta berarti penurunan produksi sebesar yang dibayangkan pasar.
Andy menjelaskan, kuota tambang Indonesia dinyatakan dalam satuan ton basah (wet ton), sehingga sulit dikonversi menjadi unit nikel yang benar-benar dapat dipulihkan karena variasi kadar air bijih yang sangat lebar.
Kadar air bijih bahkan bisa mencapai hingga 40 persen dari total tonase basah.
Selain itu, baik operator maupun pemerintah tidak secara resmi melaporkan kuota maupun realisasi produksi, yang membuat situasi sektor nikel Indonesia sulit dipetakan secara akurat.
Yang pasti, kata Andy, kuota tahun lalu jauh melampaui produksi aktual.
Menurut Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) total kebutuhan bijih dari fasilitas pengolahan domestik hanya sekitar 300 juta ton basah, termasuk impor dari Filipina yang mencapai 14 juta ton dalam 11 bulan pertama 2025, berdasarkan data World Bureau of Metal Statistics.
Kuota yang direncanakan untuk tahun ini memang akan menekan produksi, namun tidak sebesar kesan “pemangkasan besar-besaran” yang tercermin dari judul kebijakan.