AALI
11250
ABBA
74
ABDA
6500
ABMM
755
ACES
1525
ACST
390
ACST-R
0
ADES
1670
ADHI
1470
ADMF
8500
ADMG
174
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1355
AGRO
1375
AGRO-R
0
AGRS
446
AHAP
60
AIMS
133
AIMS-W
0
AISA
306
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
494
AKRA
3380
AKSI
750
ALDO
450
ALKA
238
ALMI
264
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/03/01 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
515.72
2.42%
+12.19
IHSG
6338.51
1.55%
+96.72
LQ45
967.72
2.43%
+22.97
HSI
29452.57
1.63%
+472.36
N225
29663.50
2.41%
+697.49
NYSE
0.00
-100%
-15206.70
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,283
Emas
805,461 / gram

RI Ingin Pabrik Vaksin, Erick Minta Bio Farma Gandeng Produsen Farmasi Dalam Negeri

MARKET NEWS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Kamis, 14 Januari 2021 17:00 WIB
Erick meminta agar Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero) menggandeng sejumlah produsen farmasi dalam negeri untuk membangun pabrik vaksin.
RI Ingin Pabrik Vaksin, Erick Minta Bio Farma Gandeng Produsen Farmasi Dalam Negeri. (Foto : MNC Media)

IDXChannel - Menteri BUMN Erick Thohir, mengungkapkan Indonesia mampu membangun pabrik vaksin secara mandiri. Dengan demikian, Erick meminta agar Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero) menggandeng sejumlah produsen farmasi dalam negeri merealisasikan keinginan tersebut.

Keinginan serupa juga datang dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

“Sesuai dengan arahan Pak Menteri BUMN, Menkes dan Menristek, bagaimana Bio Farma bisa melakukan koordinasi dengan beberapa perusahaan farmasi untuk bisa meng-upgrade kemampuan mereka untuk bisa membangun industri vaksin di Indonesia,” jelas Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, Kamis (14/1/2021).

Dirut Bio Farma ini menjelaskan bahwa proses produksi vaksin berbeda dengan produksi bahan farmasi lainnya. Dalam memproduksi vaksin, perusahaan harus memiliki kualitas yang sangat tinggi. Bahkan, perseroan juga harus memiliki pabrik vaksin untuk mendukung hal tersebut. Sementara, di Indonesia belum ada satu produsen farmasi yang memiliki tempat memproduksi vaksin.

"Jadi ini harus kita lakukan karena kita tahu memproduksi vaksin ini berbeda dengan produk farmasi lainnya, di mana, quality grat yang paling tinggi, dan proses produksinya juga proses yang semuanya harus steril sehingga memang kalau kita lihat dan ini menyambung pertanyaan Bapak Ibu kemarin, apakah tidak ada industri farmasi yang sanggup? Memang sampai hari ini, belum ada satupun industri farmasi di Indonesia yang mampu memiliki sertifikasi untuk membuat vaksin," imbuhnya.

Manajemen Bio Farma meminta dukungan kepada DPR agar harapan adanya pabrik vaksin bisa terealisasikan. Di mana, perseroan akan memulai langkah awal dengan melakukan koordinasi dengan sejumlah perusahaan farmasi termasuk dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

"Kami juga mohon dukungan, Bio Farma akan melakukan pendampingan terhadap industri farmasi yang lain yang bisa memproduksi vaksin ini. Tentunya nanti kami juga berkoordinasi dengan BPOM untuk melanjutkan audit karena memang tidak ada satupun proses produksi yang bisa dilakukan sebelum mendapat sertifikasi dari BPOM," tandasnya. (*)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD