Berdasarkan data historis, Anthony memperkirakan pelemahan 15 hingga 20 persen dari posisi rupiah sekitar Rp17.000 saat ini dapat membawa kurs menuju Rp20.400 per dolar AS dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.
“Angka ini bukan asumsi spekulatif, tetapi berbasis pola historis yang pernah terjadi berulang,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan pengalaman krisis moneter 1997 menunjukkan bahwa pelemahan rupiah 25 hingga 30 persen dalam waktu singkat dapat memicu krisis valuta yang lebih luas apabila respons kebijakan terlambat.
"Sejarah menunjukkan, kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF. Ketika respons datang terlambat, krisis valuta sudah membesar. Rupiah tergelincir seperti bola salju yang tidak terkendali," kata dia.
(NIA DEVIYANA)