IDXChannel - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat ke Rp16.786 per USD pada perdagangan Rabu (11/2/2026). Mata uang Garuda naik 25 poin atau 0,15 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai sejumlah sentimen baik dari eksternal maupun domestik turut mempengaruhi pergerakan mata uang.
Dari eksternal, data penjualan ritel AS untuk Desember lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia itu sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja.
"Pelemahan berkelanjutan dalam pengeluaran dapat menghadirkan prospek yang lebih lemah bagi perekonomian," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Prospek ekonomi yang lebih lemah pada gilirannya dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga lebih lanjut tahun ini untuk menopang pertumbuhan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun karena anggapan ini, sementara dolar kesulitan untuk pulih dari kerugian besar pada Senin.
Dari geopolitik, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada Selasa bahwa pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran untuk mengukur keseriusan Washington dan menunjukkan konsensus yang cukup untuk dilanjutkan ke jalur diplomatik.
Dari domestik, memasuki Ramadan dan libur Idulfitri 2026, pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 yang mencakup kebijakan diskon transportasi, work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kelancaran dan kenyamanan serta memberikan keringanan bagi masyarakat dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri.