IDXChannel - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/2/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.805 per USD, menguat 71 poin atau 0,42 persen.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai faktor eksternal maupun internal menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan mata uang.
Dari eksternal, Washington dan Teheran memberi sinyal bahwa pembicaraan nuklir antara keduanya sebagai sebuah Langkah maju.
"Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Fokus minggu ini juga pada sejumlah data ekonomi. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data indeks CPI akan dirilis pada Jumat.
Data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Di China, data CPI untuk Januari akan dirilis pada Jumat, memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai importir minyak terbesar di dunia itu.
Data tersebut dirilis tepat sebelum China memasuki liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu, sebuah peristiwa yang diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan bahan bakar di negara tersebut.
Dari internal, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penerimaan pajak 2026 bisa melampaui target yang ditetapkan pada APBN yakni Rp2.357,7 triliun.
Optimisme tersebut diungkap Purbaya di tengah basis pertumbuhan penerimaan pajak tahun lalu yang rendah sehingga turut menjadi sorotan lembaga pemeringkat asing.
Untuk diketahui, pemerintah memasang target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp2.357,7 triliun atau tumbuh 7,69 persen (YoY) dari target APBN 2025 yakni Rp2.189,3 triliun.