Di AS, data penggajian non-pertanian yang lebih lemah dari perkiraan untuk Juni, menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar ruang gerak Fed untuk menaikkan suku bunga. Namun demikian, kerugian pada dolar dibatasi oleh ketidakpastian yang berkelanjutan atas kebijakan Fed yang agresif, terutama karena rapat bank sentral pada Juni menunjukkan para pembuat kebijakan semakin mendukung suku bunga yang lebih tinggi di tengah inflasi yang tinggi.
Fokus minggu ini adalah pada risalah rapat Federal Reserve, meskipun masih belum jelas seberapa banyak wawasan yang akan diberikannya, mengingat Ketua Fed baru Kevin Warsh menyerukan perombakan komunikasi bank sentral dengan publik.
Dari dalam negeri, pasar merespon negatif setelah Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indicator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif. Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch adalah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi.
Ujungnya, lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.
Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.