sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Emas Global Terkoreksi, Analis: Prospek Kinerja HRTA Masih  Positif

Market news editor Anggie Ariesta
06/07/2026 12:24 WIB
BCA Sekuritas menilai koreksi harga emas saat ini hanya bersifat temporer dan tidak mengubah prospek permintaan jangka panjang, terutama sebagai safe haven.
Harga Emas Global Terkoreksi, Analis Prospek Kinerja HRTA Masih  Positif. (Foto: iNews Media Group)
Harga Emas Global Terkoreksi, Analis Prospek Kinerja HRTA Masih  Positif. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Setelah berhasil menembus rekor tertinggi pada awal tahun, laju harga emas global mulai memasuki fase konsolidasi dan terkoreksi sepanjang Juni 2026. 

Meskipun rata-rata harga emas dunia merosot sekitar 8 persen dibandingkan bulan sebelumnya, harga emas dalam denominasi rupiah justru masih membukukan kenaikan sekitar 5,5 persen secara tahun berjalan (year-on-year), yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), Thendra Crisnanda menilai penurunan harga ini merupakan dinamika yang lumrah terjadi di pasar komoditas. Ia menegaskan bahwa faktor fundamental yang menopang permintaan emas masih sangat solid di pasar.

"Koreksi harga emas merupakan bagian dari dinamika pasar yang dipengaruhi berbagai faktor global. Namun kami melihat fundamental permintaan emas masih tetap kuat, didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menabung emas serta berkembangnya ekosistem bullion di Indonesia. Karena itu, kami tetap optimistis terhadap prospek industri emas dalam jangka panjang," ujar Thendra dalam keterangan resminya, Senin (6/7/2026).

Fluktuasi harga logam mulia saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari lanskap global, keputusan bank sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) sukses mengatrol keperkasaan dolar AS, yang pada gilirannya menekan harga emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran serta volatilitas harga minyak turut andil memperkeruh ketidakpastian pasar.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement