Pendapatan diperkirakan membaik secara kuartalan, tetapi kenaikan ASP berpotensi tertinggal dibandingkan kenaikan harga batu bara acuan.
Hal ini terutama disebabkan oleh porsi penjualan DMO yang lebih tinggi.
Di saat yang sama, kenaikan biaya operasi berpotensi mengimbangi sebagian manfaat dari perbaikan pendapatan. Salah satu tekanan terbesar berasal dari harga high-speed diesel (HSD) domestik yang meningkat sekitar 35-40 persen secara kuartalan.
Dengan kondisi tersebut, EBITDA kuartal II-2026 diperkirakan cenderung flattish untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan jangka pendek tersebut lebih mencerminkan timing lag antara pergerakan ASP dan biaya operasional, bukan perubahan fundamental jangka panjang.
Dengan valuasi yang masih rendah dan prospek fundamental yang dinilai tetap sehat, BRI Danareksa mempertahankan dua emiten sebagai pilihan utama sektor batu bara.