IDXChannel - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meluas di tengah kondisi kering akibat fenomena El Nino. Sejumlah kebakaran juga diduga dipicu pembakaran lahan untuk pembukaan area perkebunan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kualitas udara di sekitar wilayah tambang. Di sisi lain, musim kering yang membuat sungai lebih dangkal dapat memperlambat pengiriman batu bara melalui jalur sungai.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Agung Putra Sulaiman dan Joanne Ong menilai dampak langsung karhutla terhadap produksi batu bara masih relatif terbatas. Namun, kualitas udara dan kelancaran pengiriman menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan emiten tambang.
Dalam riset yang terbit pada 24 Agustus 2026, analis CGSI Agung Putra Sulaiman dan Joanne Ong menyoroti luas area kebakaran di Indonesia yang telah melampaui 200.000 hektare.
Mengutip laporan The Straits Times pada 20 Agustus, Kalimantan menjadi episentrum kebakaran, dengan luas area terbakar yang sudah melampaui level pada periode yang sama dalam kejadian kebakaran 2019 dan 2023.