CGSI tetap lebih menjagokan AADI dengan target harga Rp12.700 per unit. Target tersebut menggunakan valuasi 6,2 kali proyeksi price-to-earnings (P/E) 2027, atau sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata valuasi AADI pada 2008-2025 ketika harga Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-USD90 per ton.
AADI dinilai memiliki sejumlah keunggulan, termasuk proyeksi gross margin 28 persen pada 2026, valuasi yang relatif menarik pada 4,8 kali P/E 2027, serta estimasi dividend yield 12 persen pada 2026.
Risiko kenaikan bagi sektor batu bara mencakup harga batu bara yang lebih tinggi dari perkiraan serta kenaikan batas atas harga batu bara untuk PLN.
Sebaliknya, risiko penurunan berasal dari penurunan harga batu bara yang lebih cepat dari perkiraan, ketidakpastian volume produksi, serta perubahan aturan pertambangan yang kurang menguntungkan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.