“Musim kemarau menghadirkan trade-off antara produksi yang lebih kuat dan kondisi barging yang lebih lemah,” tulis CGSI.
Kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2019 dan 2023. Kedua tahun tersebut menjadi acuan penting karena sama-sama ditandai kebakaran hutan di Kalimantan, tetapi produksi batu bara nasional justru tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, CGSI mempertahankan proyeksi produksi 2026 yang relatif datar, yakni 68,0 juta ton untuk AADI dan 21,5 juta ton untuk ITMG.
Pergerakan waktu alias timing pengiriman menjadi salah satu variabel utama yang perlu dipantau pada musim kemarau ini.
AADI tetap jadi pilihan utama
Di tengah risiko tersebut, CGSI mempertahankan pandangan Neutral untuk sektor batu bara. Prospek harga batu bara yang masih kuat dinilai menjadi penopang, tetapi dibayangi ketidakpastian regulasi.