CGSI kemudian memetakan titik-titik kebakaran dengan lokasi tambang emiten yang menjadi cakupan riset. Hasil pemetaan menunjukkan kebakaran telah mencapai area di sekitar tambang Bharinto milik PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) di Kutai Barat.
Temuan tersebut juga sejalan dengan laporan media daring. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat mencatat 416 hektare lahan terbakar di 72 lokasi hingga 19 Agustus.
Meski demikian, CGSI menilai risiko paling nyata bagi perusahaan tambang bukanlah gangguan langsung terhadap produksi, melainkan memburuknya kualitas udara.
Kondisi tersebut, kata analis CGSI, dapat mendorong penerapan perlindungan pernapasan, protokol untuk jarak pandang rendah, serta penyesuaian jam kerja.
Namun, CGSI tidak memperkirakan penyesuaian tersebut, jika diterapkan, akan mengganggu operasional secara material.