sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Karhutla Kalimantan Meluas, Simak Dampaknya buat Emiten Batu Bara

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
26/08/2026 06:30 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meluas di tengah kondisi kering akibat fenomena El Nino.
Karhutla Kalimantan Meluas, Simak Dampaknya buat Emiten Batu Bara. (Foto: Getty Images)
Karhutla Kalimantan Meluas, Simak Dampaknya buat Emiten Batu Bara. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meluas di tengah kondisi kering akibat fenomena El Nino. Sejumlah kebakaran juga diduga dipicu pembakaran lahan untuk pembukaan area perkebunan.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kualitas udara di sekitar wilayah tambang. Di sisi lain, musim kering yang membuat sungai lebih dangkal dapat memperlambat pengiriman batu bara melalui jalur sungai.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Agung Putra Sulaiman dan Joanne Ong menilai dampak langsung karhutla terhadap produksi batu bara masih relatif terbatas. Namun, kualitas udara dan kelancaran pengiriman menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan emiten tambang.

Dalam riset yang terbit pada 24 Agustus 2026, analis CGSI Agung Putra Sulaiman dan Joanne Ong menyoroti luas area kebakaran di Indonesia yang telah melampaui 200.000 hektare.

Mengutip laporan The Straits Times pada 20 Agustus, Kalimantan menjadi episentrum kebakaran, dengan luas area terbakar yang sudah melampaui level pada periode yang sama dalam kejadian kebakaran 2019 dan 2023.

CGSI kemudian memetakan titik-titik kebakaran dengan lokasi tambang emiten yang menjadi cakupan riset. Hasil pemetaan menunjukkan kebakaran telah mencapai area di sekitar tambang Bharinto milik PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) di Kutai Barat.

Temuan tersebut juga sejalan dengan laporan media daring. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat mencatat 416 hektare lahan terbakar di 72 lokasi hingga 19 Agustus.

Meski demikian, CGSI menilai risiko paling nyata bagi perusahaan tambang bukanlah gangguan langsung terhadap produksi, melainkan memburuknya kualitas udara.

Kondisi tersebut, kata analis CGSI, dapat mendorong penerapan perlindungan pernapasan, protokol untuk jarak pandang rendah, serta penyesuaian jam kerja.

Namun, CGSI tidak memperkirakan penyesuaian tersebut, jika diterapkan, akan mengganggu operasional secara material.

El Nino bantu produksi, tetapi berisiko menahan pengiriman

Di sisi lain, kondisi kering akibat El Nino justru memberikan keuntungan bagi aktivitas produksi batu bara. Indeks Nino telah berada di atas ambang El Nino +0,5 sejak April 2026.

CGSI melihat cuaca kering membawa tiga dampak utama bagi industri batu bara. Pertama, kondisi kering membuat kebakaran lebih mudah meluas.

Kedua, minimnya hujan membuat permukaan sungai menjadi lebih dangkal.

Ketiga, aktivitas penambangan dapat berlangsung dengan lebih sedikit gangguan akibat hujan.

Risiko terbesar justru berada pada sisi pengiriman. Sungai yang lebih dangkal dapat memperlambat aktivitas tongkang sehingga pengiriman batu bara berpotensi tertunda.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), misalnya, mengandalkan Sungai Barito untuk pengiriman. Sementara itu, tambang-tambang ITMG, khususnya Trubaindo, Bharinto, dan Graha Panca Karsa, bergantung pada Sungai Mahakam.

“Musim kemarau menghadirkan trade-off antara produksi yang lebih kuat dan kondisi barging yang lebih lemah,” tulis CGSI.

Kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2019 dan 2023. Kedua tahun tersebut menjadi acuan penting karena sama-sama ditandai kebakaran hutan di Kalimantan, tetapi produksi batu bara nasional justru tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, CGSI mempertahankan proyeksi produksi 2026 yang relatif datar, yakni 68,0 juta ton untuk AADI dan 21,5 juta ton untuk ITMG.

Pergerakan waktu alias timing pengiriman menjadi salah satu variabel utama yang perlu dipantau pada musim kemarau ini.

AADI tetap jadi pilihan utama

Di tengah risiko tersebut, CGSI mempertahankan pandangan Neutral untuk sektor batu bara. Prospek harga batu bara yang masih kuat dinilai menjadi penopang, tetapi dibayangi ketidakpastian regulasi.

CGSI tetap lebih menjagokan AADI dengan target harga Rp12.700 per unit. Target tersebut menggunakan valuasi 6,2 kali proyeksi price-to-earnings (P/E) 2027, atau sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata valuasi AADI pada 2008-2025 ketika harga Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-USD90 per ton.

AADI dinilai memiliki sejumlah keunggulan, termasuk proyeksi gross margin 28 persen pada 2026, valuasi yang relatif menarik pada 4,8 kali P/E 2027, serta estimasi dividend yield 12 persen pada 2026.

Risiko kenaikan bagi sektor batu bara mencakup harga batu bara yang lebih tinggi dari perkiraan serta kenaikan batas atas harga batu bara untuk PLN.

Sebaliknya, risiko penurunan berasal dari penurunan harga batu bara yang lebih cepat dari perkiraan, ketidakpastian volume produksi, serta perubahan aturan pertambangan yang kurang menguntungkan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement