IDXChannel – Saham-saham konglomerat mencatat rebound tajam dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya sempat tertekan pengumuman daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) oleh bursa.
Penguatan ini terjadi seiring kabar FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia di secondary emerging market serta gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membantu menenangkan pasar global.
Penguatan paling mencolok terjadi pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 49,61 persen sepekan ke Rp1.915 per unit dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 45,68 persen ke Rp6.075 per unit.
Kemudian, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 28,71 persen ke Rp1.345, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 25,31 persen ke Rp1.015, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 25 persen ke Rp5.375.
Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turut menguat 20,83 persen ke Rp5.800.
Kenaikan juga terlihat pada saham-saham Grup Bakrie.
Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melesat 40,95 persen ke Rp148, diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 25,16 persen ke Rp970, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 14,97 persen ke Rp845.
Selanjutnya, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 13,67 persen ke Rp1.705, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 10,04 persen ke Rp515, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 7,89 persen ke Rp246.
Rebound juga terjadi pada Grup Hapsoro, dengan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik 20,27 persen sepekan ke Rp4.390, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) naik 19,39 persen ke Rp1.170, serta PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) naik 14,33 persen ke Rp5.625.
Sementara itu, emiten Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 10,28 persen menjadi Rp3.110. DSSA baru saja resmi melakukan stock split dengan rasio 1:25 pada Kamis (9/4).
Dari kelompok lain, saham Grup Salim seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 15,43 persen ke Rp5.425 dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) naik 13,07 persen ke Rp8.650.
Saham Grup Haji Isam juga bergerak variatif dengan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 6,86 persen ke Rp2.180 dan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (PGUN) naik 6,40 persen ke Rp8.725, sementara PT TBS Energi Utama Tbk (TEBE) justru turun 6,92 persen ke Rp1.345.
Selain itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) milik Hashim Djojohadikusumo naik 9,86 persen ke Rp2.340.
Rebound saham-saham konglomerat ini terjadi setelah sebelumnya banyak terkoreksi sejak awal tahun di tengah isu investabilitas yang diumumkan pengelola indeks MSCI serta goncangan konflik Iran yang memicu volatilitas pasar global.
“Saham konglomerasi memang erat kaitannya dengan indeks. Pengumuman oleh FTSE kemarin memberi angin segar terhadap emiten-emiten konglo di IHSG dan itu membuat banyak saham konglo selain PP juga mengalami rebound,” ujar pengamat pasar modal Michael Yeoh, Kamis (9/4/2026).
Dia mencontohkan, penguatan tidak hanya terjadi pada saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu, tetapi juga terlihat pada konglomerasi lain di pasar.
“Sebut saja contoh saham-saham Happy Hapsoro dan Grup Bakrie,” katanya.
Michael menambahkan, arah saham konglomerasi ke depan masih akan sangat bergantung pada keputusan indeks global berikutnya, terutama dari MSCI yang akan melakukan rebalancing besar pada Mei.
“Saham konglo masih perlu menunggu kejelasan dari indeks MSCI, karena saat ini akan terjadi rebalancing besar-besaran global pada Mei,” ujarnya.
Dia berharap status Indonesia tetap dipertahankan sebagai emerging market sehingga arah saham konglomerasi menjadi lebih jelas.
HSC Sempat Tekan Indeks
Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar High Shareholding Concentration (HSC) pada 2 April 2026 sebagai bagian akhir paket reformasi transparansi yang diajukan kepada MSCI.
Langkah ini dinilai menjadi penentu arah saham Indonesia di indeks global, kendati membuka risiko keluarnya sejumlah emiten dari MSCI Indonesia.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin dalam risetnya tertanggal 6 April 2026 menilai daftar HSC merupakan komponen paling krusial dalam paket reformasi regulator untuk menjawab kekhawatiran MSCI terkait investability saham Indonesia.
Wilbert menjelaskan daftar HSC mengidentifikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Dari sembilan saham yang masuk daftar, dua di antaranya merupakan konstituen MSCI Indonesia, yakni BREN dari Grup Barito dan DSSA dari Grup Sinarmas.
Kedua saham tersebut sempat tertekan setelah pengumuman HSC, membuat IHSG turun 2,19 persen pada 2 April dan 0,53 persen pada Senin (6/4), sebelum akhirnya rebound bersama saham konglomerasi lainnya.
IHSG Melesat 6 Persen Sepekan
Menurut data bursa, IHSG ditutup menguat 2,07 persen ke level 7.458,50 pada Jumat (10/4/2026), mencatatkan reli tiga hari beruntun.
Secara mingguan, indeks melonjak 6,14 persen, meski secara year-to-date (YtD) masih terkoreksi 13,74 persen.
Penguatan IHSG didorong kebangkitan saham-saham big cap konglomerat serta rebound bank-bank besar yang mengerek indeks.
Pekan ini, sentimen tambahan datang setelah FTSE Russell menegaskan Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging Market, sementara gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran turut meredakan kekhawatiran investor meski situasi dinilai masih rapuh. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.