Ricky menegaskan, inilah alasan kebijakan tersebut tidak menjawab kekhawatiran MSCI. Menurut dia, MSCI tidak menilai pasar dari kepatuhan formal terhadap angka free float atau ambang pelaporan, melainkan dari aspek investabilitas.
“MSCI melihat effective free float, kedalaman likuiditas, kesinambungan harga, serta kemampuan investor institusi besar untuk masuk dan keluar pasar tanpa mengganggu harga,” ujar Ricky.
Sebanyak apa pun free float di atas kertas, demikian Ricky membahasakannya, saham tetap tidak investable jika nilai transaksi harian minim dan pembentukan harga didominasi perputaran internal.
Ia juga mengingatkan, reformasi tersebut justru berpotensi meningkatkan kerapuhan sistemik.
Target free float yang lebih tinggi dapat mendorong praktik price maintenance, sementara ambang pelaporan yang lebih rendah berisiko mendorong fragmentasi kepemilikan agar tetap berada di bawah batas pelaporan.