Di saat yang sama, tinjauan aksesibilitas pasar Indonesia oleh MSCI masih dibekukan hingga November 2026 sehingga belum ada katalis yang dapat mendorong kenaikan bobot dalam waktu dekat.
"Ketika penentu harga dari investor asing mulai mundur, basis investor domestik akan mengambil peran sebagai pembeli marginal sehingga perilaku pasar akan berubah dibanding sebelumnya," tulis Raja dalam risetnya.
Untuk memahami dampaknya, Bahana mempelajari pengalaman tiga negara yang lebih dulu mengalami penurunan bobot serupa, yakni Turki, Chile, dan Filipina.
Hasilnya menunjukkan bahwa ketika aliran dana asing menyusut, investor institusi cenderung terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, sementara investor ritel lebih banyak memburu saham-saham likuid yang memiliki momentum.
Menurut Raja, pola yang sama mulai terlihat di Indonesia. Saham-saham berkapitalisasi besar masih ditopang oleh permintaan institusi domestik meski kepemilikan asing terus menurun.