sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Target Produksi Batu Bara Dipangkas, Masih Ada Emiten yang Prospektif?

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
16/02/2026 07:18 WIB
Rencana pemerintah memangkas target produksi batu bara nasional dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026 berpotensi menjadi sentimen negatif.
Target Produksi Batu Bara Dipangkas, Masih Ada Emiten yang Prospektif? (Foto: Unsplash)
Target Produksi Batu Bara Dipangkas, Masih Ada Emiten yang Prospektif? (Foto: Unsplash)

IDXChannel - Rencana pemerintah memangkas target produksi batu bara nasional dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026 berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pelaku usaha jasa kontraktor tambang.

Dalam risetnya yang terbit pada 3 Februari 2026, Sucor Sekuritas menilai kebijakan ini menciptakan tekanan (policy headwind) yang jelas bagi industri batu bara, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada volume produksi klien.

Berdasarkan laporan media dan panduan awal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebagian besar penambang menghadapi pemangkasan kuota RKAB sebesar 9-80 persen dari level yang diajukan.

Langkah ini juga sejalan dengan kondisi harga batu bara global yang melemah akibat turunnya permintaan dari China dan India, sehingga menekan profitabilitas industri dan penerimaan negara dari sektor tambang.

Namun, tidak semua emiten terkena dampak serupa. Sucor menilai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY), melalui anak usahanya Kideco, diperkirakan dapat mempertahankan tingkat produksi.

Ketiganya dinilai memiliki skala besar dan peran strategis dalam menjaga pasokan batu bara untuk PLN melalui skema domestic market obligation (DMO).

Sebaliknya, segmen kontraktor tambang dinilai paling rentan. PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) disebut menghadapi risiko penurunan kinerja terbesar.

Sucor memperkirakan setiap penurunan volume hauling sebesar 1 juta ton dapat memangkas laba MAHA sekitar 9,8 persen.

Risiko ini membesar karena PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebagai klien utama, dengan kontribusi sekitar 42 persen terhadap total hauling MAHA, dikabarkan memangkas produksi hingga 53 persen secara tahunan.

Tekanan serupa juga membayangi PT United Tractors Tbk (UNTR), mengingat lebih dari separuh bisnisnya masih terkait sektor batu bara.

Sucor memperkirakan penurunan sekitar 5 persen pada volume overburden removal (OB) PAMA, unit kontraktor tambang UNTR, dapat menggerus laba perseroan sekitar 2 persen.

Sementara itu, setiap penurunan 1 juta ton penjualan batu bara berpotensi menekan laba bersih sekitar 0,1 persen. Pelemahan produksi batu bara juga dikhawatirkan mengurangi permintaan alat berat, yang menjadi salah satu penopang kinerja UNTR.

Di tengah tekanan tersebut, Sucor justru mempertahankan rekomendasi beli untuk AADI. Sebagai produsen batu bara murni dengan struktur biaya rendah, AADI dinilai berada pada posisi relatif lebih kuat.

Perseroan disebut memiliki cash cost rendah, potensi imbal hasil dividen tinggi sekitar 10 persen, serta peluang menjadi salah satu penerima manfaat jika harga batu bara kembali menguat. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement