Menurut Dicky, prospek jangka pendek sektor teknologi kini menghadapi tantangan yang lebih besar setelah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah memicu tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama, dengan kisaran 3,50-3,75 persen hingga akhir 2026.
Kondisi itu mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global, memperlebar premi risiko pasar negara berkembang, serta meningkatkan biaya modal (cost of capital) perusahaan.
Dampaknya, valuasi yang layak untuk saham-saham teknologi ikut mengalami penyesuaian.
Selain tekanan makro, industri juga menghadapi lonjakan biaya komponen akibat meningkatnya belanja infrastruktur AI di seluruh dunia.