sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026

Market news editor Rohman Wibowo
18/06/2026 17:59 WIB
Pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi transisi seiring dengan terbentuknya tren imbal hasil tinggi (higher yield environment).
Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026. Foto: Freepik.
Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026. Foto: Freepik.

IDXChannel - Pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi transisi seiring dengan terbentuknya tren imbal hasil tinggi (higher yield environment) yang diperkirakan bertahan dalam jangka panjang. 

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, mengatakan kondisi ini dipicu aksi jual yang menekan harga obligasi domestik secara signifikan.

"Saya melihat bahwa higher yield environment itu akan terjadi sejak saat ini sampai dengan mungkin di akhir tahun 2026," kata Salvian dalam diskusi PHEI secara daring, Kamis (18/6/2026).

Gambaran volatilitas tersebut, kata Salvian, terekam dalam Indonesia Composite Bond Index (ICBI) atau indeks komposit garapan PHEI yang menggabungkan seluruh obligasi pemerintah maupun korporasi di Indonesia.

Nilai indeks ini ditunjukkan melalui nilai Harga dan Bunga (HB), yang merefleksikan perpaduan antara apresiasi harga obligasi (clean price) dengan perolehan kupon. Sepanjang awal 2026, performa ICBI bergerak cukup kokoh pada level tinggi di atas 400 dan cenderung bergerak mendatar (sideways).

Namun, memasuki Maret 2026, indeks mengalami koreksi yang cukup tajam sebelum akhirnya berhasil pulih atau rebound pada April 2026. Kondisi kembali berbalik menekan pada Juni 2026 ini, di mana pasar melemah sangat signifikan hingga mencatatkan performa tahun berjalan (year-to-date/ytd) minus 3,84 persen untuk nilai HB dan minus 3,35 persen untuk harga bersih.

Salvian menyoroti soal koreksi pada tahun berjalan ini berbanding terbalik dengan tren pertumbuhan historis sejak masa awal pandemi Covid-19 pada 2020, di mana nilai HB secara kumulatif sempat melonjak hingga 39 poin. Puncak tingkat pengembalian tertinggi bahkan dinikmati investor pada tahun lalu karena harga obligasi bergerak stabil meski tidak mengalami lonjakan drastis. 

Berbeda dengan situasi tersebut, kata Salvian, hingga posisi 12 Juni 2026, nilai HB justru terpangkas sedalam 16 poin. Secara historis pada 2021, 2022, dan 2024, kupon obligasi selalu andal bertindak sebagai jangkar penyelamat yang menjaga total imbal hasil tetap positif di tengah merosotnya harga aset. 

Namun, kejatuhan harga bersih atau clean price pada pertengahan tahun ini tercatat sangat masif hingga menyeret kinerja HB, indeks syariah sukuk, serta indeks komposit obligasi ke salah satu titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kata Salvian, koreksi tajam pada harga bersih obligasi komposit ini memicu pertanyaan krusial mengenai sektor mana yang menanggung beban tekanan terdalam.

Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja indeks menunjukkan adanya kesenjangan performa yang mencolok antara surat utang milik negara dan instrumen swasta.

"Bisa dilihat government bond yang total return itu minus 4,01 persen secara year to date," papar Salvian.

Kejatuhan kinerja obligasi pemerintah tersebut bersumber dari anjloknya clean price surat utang negara secara ekstrem sebesar 6,96 persen (ytd), dengan titik penurunan terdalam terjadi sepanjang bulan Juni ini. 

Di sektor swasta, indeks total imbal hasil obligasi korporasi hanya terkoreksi tipis sebesar 0,99 persen (ytd). Selain itu, depresiasi harga bersih pada surat utang swasta juga terpantau jauh lebih terkendali, yakni hanya turun sebesar 4,4 persen secara (ytd).

Perbedaan ini, menurut Salvian, disebabkan oleh besaran kompensasi bunga atau imbalan yang ditawarkan oleh perusahaan swasta kepada para pemodal. Karakteristik proteksi kupon ini membuat instrumen utang non-pemerintah tampil sebagai portofolio defensif yang andal di tengah tren kejatuhan harga aset.

"Jadi bisa kita bilang malah obligasi korporasi sampai dengan 12 Juni 2026, pergerakan harganya 2026 lebih kuat, lebih bertahan dibandingkan dengan obligasi pemerintah," kata Salvian.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement